Seekor burung jenis Nuri Bayan / Betet menjadi satu-satunya saksi atas pembunuhan pemiliknya. Kejadian ini terjadi pada tahun 2014 di desa Agra - India. Ketika Sharma sang pemilik rumah  pulang ia mendapati istri dan anjingnya tewas dengan mengerikan. Sang istri ditemukan tewas didalam kamar mandi sedangkan anjingnya ddapi tewas tergeletak didekat pintu. Polisi sendiri mengalami kesulitan untuk menemukan dalang pembunuhan tersebut.

Kasus itu menemukan titik cerah ketika keponakan mereka Ashu datang ke rumah saat polisi masih melakukan penyelidikan. Mitu menunjukkan reaksi aneh ketika ia melihat Ashu datang. Burung itu terlihat sangat cemas dan takut terhadap Ashu. Jika ada seseorang yang menyebutkan nama Ashu dia akan menjerit dan menunjukkan reaksi berontak yang kuat. Melihat itu Sharma mulai curiga kepada Ashu dan memberitahukan hal itu kepada polisi. Polisi awalnya tidak percaya, tetapi mereka tetap melakukan penyelidikan terhadap Ashu. Data panggilan telepon Ashu menunjukkan dugaan bahwa ia adalah tersangka kasus tersebut. Ashu yang kemudian berubah statusnya menjadi tersangka segera ditangkap dan ia mengakui perbuatannya itu. 

Menurut Ashu ketika keluarga pamannya sedang keluar ia mulai merampok rumah mereka. Dia membunuh bibinya yang pulang, ia juga membunuh sang anjing karena ia takut anjing tersebut akan mengenalinya. Dia tidak membunuh Mitu karena ia sama sekali tidak menduga bahwa justru Mitu yang akan menjadi saksi kejahatannya. Dia tidak megetahui bahwa seekor burung mempunyai kemampuan untuk mengenalinya. Mitu adalah satu-satunya saksi  pembunuhan keji tersebut.

Mitu yang telah dipelihara keluarga Sharma selama 28 tahun tentu mengenali siapa saja orang yang sering datang kerumah mereka. Apalagi pembunuhan itu terjadi kepada orang yang selama ini telah merawatnya. Tiga hari semenjak kejadian Mitu masih mengalami stres dan ia tidak bisa makan sedikitpun. Bagaimana tidak ia melihat dengan matanya sendiri sang pemilik tewas dengan keji karena dibunuh oleh keponakannya..


Sumber : SBS TV



 

ABSTRAK 


Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan sistem pakar berbasis web yang dapat mendiagnosa penyakit lambung dan usus menggunakan metode Teorema Bayes dan Certainty Factor, serta mengetahui perbandingan kinerja kedua metode tersebut ditinjau dari segi akurasi diagnosa dan kompleksitas waktunya. Metode Teorema Bayes dan Certainty Factor merupakan metode yang digunakan pada sistem pakar untuk mendiagnosa penyakit yang mempunyai gejala-gejala yang tidak mengacu pada satu penyakit, sehingga menimbulkan ketidakpastian dalam mendiagnosa penyakit. Sistem pakar ini dikembangkan berdasarkan metode Sekuensial Linier, dan analisis berorientasi objek Unified Modeling Language (UML). 
Untuk membangun sistem ini digunakan bahasa pemrograman PHP dan database MySQL. Output dari sistem ini adalah hasil diagnosa yang berupa kesimpulan dan informasi penyakit. Namun jika terjadi ketidakpastian, selain menghasilkan kesimpulan dan informasi penyakit, sistem juga akan menampilkan presentase kepercayaan penyakit berdasarkan Teorema Bayes dan Certainty Factor. Hasil analisis dan pengujian menunjukkan bahwa ditinjau dari segi akurasi diagnosa Certainty Factor mampu menghasilkan diagnosa yang lebih akurat yaitu sebesar 100% dengan presentase kepercayaan penyakit rata-rata 97,5818212% dibandingkan Teorema Bayes yang memiliki tingkat akurasi 96% dengan presentase kepercayaan penyakit rata-rata 70,4428461%. Ditinjau dari segi kompleksitas waktu setiap metode diperoleh kesimpulan bahwa Certainty Factor mampu mendiagnosa penyakit lebih cepat dibandingkan Teorema Bayes, dikarenakan Certainty Factor memiliki kompleksitas waktu yang lebih rendah, yaitu T(n) = 2n+24, bila dibandingkan Teorema Bayes yang memiliki kompleksitas waktu T(n) = 6n2+15n+41. 

Kata kunci : Sistem Pakar, Penyakit Lambung dan Usus, Teorema Bayes, Certainty Factor, Perbandingan, Akurasi Diagnosa, Kompleksitas Waktu, Unified Modeling Language (UML) 

Link Website Sistem Pakar : http://pakarlambungusus.orgfree.com/